
Beberapa tahun lalu, nama Ilaix Moriba sempat muncul di headline bareng nama-nama kayak Pedri dan Ansu Fati. Bahkan waktu itu banyak fans Barça bilang:
“Ini anak, gabungan antara Pogba sama Yaya Touré!”
Gelandang tengah, gede badannya, kaki panjang, tapi first touch-nya soft, dan passing-nya mature banget buat usianya. Tapi setelah kontrak ribet dan ekspektasi terlalu tinggi, Moriba malah jalan berliku yang bikin banyak orang nanya:
“What happened?”
Tapi dia baru 21 tahun. Masih banyak waktu buat comeback. Dan ceritanya ini jauh dari selesai.
Awal Karier: Mesin Tengah Akademi La Masia
Ilaix Moriba lahir 19 Januari 2003 di Guinea, tapi besar di Spanyol. Dia gabung akademi La Masia sejak kecil — dan langsung beda.
- Fisiknya gede banget dibanding pemain seumuran
- Tapi punya kontrol bola yang luar biasa halus
- Sering dijadiin pivot atau box-to-box
- Bisa ngoper, tackle, dan kadang nyetak gol dari luar kotak penalti
Banyak pelatih Barça youth bilang:
“Dia gak cuma jago, tapi dewasa banget cara mainnya.”
Dan hasilnya? Di usia 17, udah main di tim Barcelona B. Di usia 18? Debut di tim utama bareng Messi.
Musim Debut Bareng Barcelona: Naik Daun Seketika
Musim 2020/21, Ronald Koeman lagi nekat berani mainin anak muda. Dan Moriba dapet kesempatan emas.
Penampilannya solid banget:
- 18 laga di semua kompetisi
- Cetak 1 gol dan 3 assist
- Kombinasi kuat sama Busquets dan Pedri
- Jadi “tembok” di lini tengah yang juga bisa build-up
- Cetak gol debut cantik lawan Osasuna — jarak jauh kaki kiri!
Fans langsung jatuh hati. Apalagi, dia tunjukin kalau Barça punya gelandang yang beda dari yang biasanya kecil-kecil elegan. Moriba itu dominan, tapi tetap punya DNA La Masia.
Masalah Kontrak: Uang, Agen, dan Ego
Masuk musim 2021, klub mau kasih kontrak baru. Tapi…
- Moriba dan agennya minta gaji tinggi banget untuk pemain usia 18
- Barça, dalam krisis finansial, gak sanggup atau gak mau nurutin
- Joan Laporta dan staf pelatih kecewa
- Dia akhirnya dibuang dari skuad utama
- Dan dijual ke RB Leipzig di Bundesliga
Fans terbelah: ada yang bela Moriba karena dia cuma “fight buat value-nya,” tapi banyak juga yang ngerasa dia keluar terlalu cepat dan gak sabar.
Di RB Leipzig: Gak Klik, Gak Dapet Menit
Moriba gabung Leipzig dengan ekspektasi tinggi. Tapi di Bundesliga, dia:
- Susah adaptasi ke tempo permainan
- Kalah saing dari gelandang senior kayak Laimer, Kampl, dan Dani Olmo
- Gak konsisten
- Cuma main beberapa menit
- Gak bisa tunjukkan kualitas kayak waktu di Barça
Akhirnya dia dipinjamkan ke Valencia — kembali ke La Liga buat cari jam terbang dan restart karier.
Di Valencia: Mulai Stabil, Tapi Belum Meledak
Selama dua musim terakhir, Moriba sempat jadi bagian rotasi utama di Valencia:
- Main sekitar 40 pertandingan total
- Gaya main lebih defensif
- Dapat kepercayaan dari pelatih di beberapa fase
- Tapi kontribusinya belum maksimal (minim gol dan assist)
- Masih sering kena kritik karena kurang konsisten
Fans La Liga masih percaya dia punya potensi besar, tapi butuh satu hal: fokus. Karena talenta udah kelihatan dari awal, tapi keputusan kariernya belum selalu tepat.
Gaya Main: Gelandang Modern dengan DNA Fisik dan Teknik
Moriba adalah tipe gelandang box-to-box hybrid:
Kuat secara fisik
Punya akselerasi dan dribel
Vision bagus buat umpan vertikal
Bisa jadi double pivot atau 8
Bagus dalam duel satu lawan satu
Nendang dari luar kotak penalti
Tapi kelemahannya:
Sering kehilangan bola saat over-dribble
Kadang kurang disiplin taktik
Emosional dan agak reaktif di beberapa momen
Kalau dia bisa stabilin mindset dan decision-making, dia bisa jadi gelandang top. Masih muda, tinggal poles.
Timnas: Dari Spanyol ke Guinea
Moriba awalnya main buat Spanyol di kelompok umur U17 dan U19. Tapi tahun 2021, dia resmi pilih bela Guinea, negara asal orang tuanya.
Dan bareng Guinea, dia:
- Langsung jadi starter
- Main di Piala Afrika 2022
- Diharapkan jadi jenderal lini tengah masa depan
- Jadi wajah timnas bareng Naby Keïta dan Serhou Guirassy
Keputusannya bikin Guinea punya komposisi lebih seimbang, dan Moriba bisa dapet tanggung jawab lebih dari usia muda.
Apa yang Akan Datang?
Musim depan jadi momen krusial buat Moriba:
- Dia harus cari klub yang bisa kasih jam main rutin
- Bisa jadi tetap di La Liga, atau cabut ke Ligue 1 atau Serie A
- Masih punya peluang balik ke Leipzig kalau performanya oke
- Yang jelas: harus ngebuktiin kalau dia bukan one-season wonder
Moriba gak boleh jadi nama yang orang ingat karena “dulu main bareng Messi.” Dia harus bikin identitas baru.
Penutup: Ilaix Moriba Masih 21 Tahun. Ini Bukan Akhir Cerita, Tapi Babak Baru
Naik cepat itu keren. Tapi yang susah adalah bertahan di level atas dan konsisten. Moriba udah lihat dua sisi dunia bola:
Jadi rising star
Terpental dari sistem top
Sekarang dia tahu, talent doang gak cukup. Fokus, kerendahan hati, dan keputusan yang matang jauh lebih penting buat bangun karier panjang.
Dan kalau dia bisa reset mental, kerja keras, dan temuin pelatih yang cocok — gak ada alasan Ilaix Moriba gak bisa balik ke level elite.