
Lo tau gak sih, ada pemain yang tampilnya gak heboh, gak viral tiap minggu, tapi pelatih dan rekan setimnya selalu bilang, “Kalau dia gak ada, tim ini gak seimbang.”
Nah, itu banget deskripsinya Steven Nzonzi.
Pemain bertinggi 196 cm ini bukan cuma jago duel udara atau ngetackle lawan. Dia juga punya kontrol bola elite, passing rapi, dan ngerti banget cara ngatur ritme pertandingan.
Dan yang paling menarik: kariernya nyebrang dari Inggris ke Spanyol, Italia, Turki, sampai Prancis, dan tetap relevan di level atas — plus, juara Piala Dunia bareng Prancis!
Tapi kenapa nama dia jarang banget dibahas? Yuk, kita kulik kenapa Nzonzi adalah salah satu gelandang bertahan paling underrated di generasinya.
Awal Karier: Dari Amiens ke Inggris
Steven Nzonzi lahir di Prancis tahun 1988, dari keluarga berdarah Kongo. Dia memulai karier profesionalnya bareng Amiens SC, klub kecil di Ligue 2. Tapi talenta dan fisiknya gak bisa disembunyikan.
Gak butuh waktu lama, klub Inggris mulai ngintip.
Dan boom — tahun 2009, Blackburn Rovers rekrut Nzonzi buat masuk ke skuat Premier League.
Di situ, dia langsung nunjukin potensi:
- Calm under pressure
- Bisa oper bola dengan satu sentuhan
- Punya badan kayak tembok tapi gak kaku
- Gelandang bertahan yang bisa build-up
Meski Blackburn saat itu struggling, Nzonzi mulai dikenal fans bola Inggris sebagai pemain muda yang “beda.”
Pindah ke Stoke City: Jadi Tank di Tengah
Tahun 2012, Nzonzi pindah ke Stoke City, klub yang waktu itu terkenal dengan gaya main “fysical FC” — keras, direct, dan gak kompromi.
Banyak yang mikir Nzonzi bakal kesulitan di sistem itu, tapi justru dia bersinar banget.
Dia main bareng pemain kayak Charlie Adam, Arnautović, dan Shaqiri. Tapi perannya di lini tengah jelas:
Distributor bola + penjaga ritme + pemutus serangan lawan.
Setiap musim, statistik passing dan interception-nya stabil. Tapi tetap aja, dia gak pernah dapat spotlight macam gelandang-gelandang flashy lain.
Kenapa? Karena gaya mainnya gak show-off, dan Stoke bukan klub yang sering ada di media besar.
Tapi buat fans bola sejati, Nzonzi waktu itu udah kelihatan punya “aura elite.”
Pindah ke Sevilla: Saat Kualitasnya Dapet Panggung Sesungguhnya
Tahun 2015, Nzonzi pindah ke Sevilla. Inilah momen di mana dunia mulai sadar: “Wah, pemain ini ternyata world class.”
Di bawah Unai Emery, lalu Jorge Sampaoli, dan akhirnya Vincenzo Montella, Nzonzi jadi salah satu gelandang paling penting di La Liga. Dia:
- Gak cuma bertahan, tapi juga jadi pengatur tempo
- Dominan di udara
- Jarang salah umpan
- Dan bisa ngontrol ritme tanpa banyak sentuhan
Musim 2015–2018, Nzonzi tampil konsisten dan bantu Sevilla:
- Juara Liga Europa 2016
- Finish di zona Eropa terus
- Dan sering bikin tim besar kesulitan
Bahkan, dia sempat dikaitkan dengan Barcelona dan Arsenal, tapi gak pernah benar-benar pindah — karena Sevilla tahu, gak gampang gantiin peran dia.
Skillset: Silent Controller yang Anti Panik
Nzonzi itu bukan gelandang bertahan biasa. Dia bukan tipe destroyer macam Kante yang tekel sana-sini, tapi lebih kayak busur yang narik ritme pertandingan.
- Composure tinggi – Dia bisa hadapi dua pemain lawan dan tetap tenang kayak lagi main di taman.
- Passing simpel tapi mematikan – Nzonzi tahu kapan harus progresif, kapan main aman.
- Body shielding luar biasa – Gak gampang dijatuhin. Lawan sering frustasi karena bola gak bisa direbut.
- Positioning cerdas – Dia jarang tackle keras karena dia udah ada di posisi sebelum lawan ngegas.
Dia itu kayak busur stabil di tengah badai — bikin semua terasa rapi dan tenang.
Juara Dunia 2018: Diam-diam Jadi Kartu As Deschamps
Buat sebagian orang, Nzonzi cuma “pelapis Kante” di squad Prancis Piala Dunia 2018. Tapi kalau lo perhatiin betul, dia main di final lawan Kroasia, masuk saat Pogba mulai kecapekan — dan bantu kunci tengah lapangan sampai menit akhir.
Pelatih Didier Deschamps percaya penuh sama Nzonzi karena:
- Dia disiplin taktik
- Gak egois
- Gak panik di laga-laga besar
- Bisa jadi penyeimbang di tim yang isinya banyak pemain flamboyan
Dia mungkin gak bikin gol, gak bikin assist. Tapi kalau lo tonton ulang final itu, lo bakal liat: setelah dia masuk, Kroasia gak bisa build-up senyaman babak pertama.
Roma dan Galatasaray: Pindah Tapi Gak Konsisten
Setelah Piala Dunia, Nzonzi pindah ke AS Roma. Tapi di sana, dia kesulitan adaptasi dengan taktik dan intensitas Serie A yang makin pressing.
Dia sempat tampil bagus di awal, tapi gak pernah stabil.
Akhirnya dia dipinjamkan ke Galatasaray, dan performanya… so-so. Ada momen bagus, tapi juga ada drama disipliner.
Setelah itu, kariernya mulai terasa “mundur pelan-pelan.”
Dia sempat main buat Rennes dan terakhir aktif di Al-Rayyan (Qatar), tapi gak pernah balik ke level elite seperti saat di Sevilla atau timnas.
Kenapa Nzonzi Underrated Banget?
- Bukan pemain highlight – Dia gak dribel, gak bikin gol-gol cantik.
- Perannya invisible tapi vital – Banyak fans bola cuma lihat yang flashy. Gelandang yang tugasnya jaga ritme jarang dipuji.
- Main di klub menengah – Gak pernah main buat Real Madrid, Bayern, atau City.
- Low profile banget – Gak aktif di media sosial, jarang wawancara bombastis.
Tapi buat pelatih, Nzonzi adalah aset yang sangat berharga — karena bisa diandalkan di pertandingan apa pun, di sistem mana pun.
Legacy: Gelandang Modern Tanpa Branding, Tapi Juara Dunia
Di usia 35-an sekarang, Nzonzi mungkin udah gak akan balik ke Eropa top level. Tapi warisannya jelas:
- Jadi contoh gelandang bertahan yang tenang dan smart
- Pernah jadi inti tim juara Eropa (Sevilla)
- Dan bagian dari tim juara Piala Dunia
Buat fans Prancis dan Sevilla, dia bukan cuma pelengkap. Dia adalah fondasi diam-diam yang bikin sistem jalan.